- 562 petak kawasan dinilai petak heksagon, jalan kaki 800 m
- 1.105 titik transit terdata MRT, KRL, LRT, TransJakarta
- 5.711 gerai usaha terdata dalam radius jalan kaki
- 13 jenis usaha dinilai kuliner, ritel harian, dan jasa
Salah pilih lokasi, modalnya yang hangus.
Sekitar stasiun itu tempat dagang paling ramai di Jakarta, dan orang masih memilih lokasi pakai firasat.
Ramainya belum pernah dihitung
Semua tahu kawasan stasiun itu ramai. Tidak ada yang tahu petak mananya.
Pesaingnya tidak kelihatan
Buka kedai kopi di jalan yang sudah penuh kedai kopi itu resep bangkrut.
Tempatnya tidak ikut dihitung
Kawasan bagus yang tidak ada rukonya bukan peluang.
Ramainya tidak rata.
Tiap batang: berapa petak yang punya sekian usaha dalam radius jalan kaki. Kebanyakan sepi, sedikit yang padat.
Angka per kelompoknya
| Sampai | Petak |
|---|---|
| sampai 28 usaha | 35 |
| sampai 56 usaha | 105 |
| sampai 84 usaha | 97 |
| sampai 112 usaha | 75 |
| sampai 140 usaha | 52 |
| sampai 168 usaha | 36 |
| sampai 196 usaha | 24 |
| sampai 224 usaha | 18 |
| sampai 252 usaha | 13 |
| sampai 280 usaha | 3 |
| sampai 308 usaha | 1 |
| sampai 336 usaha | 3 |
Tiap petak dihitung sendiri.
Usaha yang sudah berdiri, titik transit, dan tempat yang sedang dipasarkan. Dihitung satu per satu di tiap petak, bukan dikira-kira dari rata-rata kota.
Di sebagian kawasan ada catatan dari orang yang datang ke sana.
709 catatan lapangan: struk belanjaan, harga sekali makan, seramai apa tempatnya waktu didatangi, dan tempat yang sedang disewakan. Semuanya ada fotonya, jadi rupa jalannya bisa dilihat dulu.
Satu skor per petak, per jenis usaha.
Cari kawasan yang ramai, pesaing sejenisnya masih sedikit, dan tempatnya ada.
Satu heksagon, satu petak. Tinggi dan warnanya sama-sama skor peluang, diambil dari skor sungguhan kisinya, pada skala yang sama persis dengan peta di dalam aplikasi. Yang cekung dan tidak berwarna kotanya belum disurvei. Lingkaran putus-putus itu jangkauan jalan kaki yang dipakai waktu kisinya dibangun.
belum disurvei, di luar skala
- 1
Petak sejauh jalan kaki
Jakarta ditutup kisi heksagon. Yang dinilai cuma 562 petak yang punya titik transit dalam 800 m.
- 2
Tiga data dicocokkan
Titik usaha, simpul transit, dan tempat yang dipasarkan, masing-masing masuk ke petaknya.
- 3
Dihitung per jenis usaha
Ramai dikurangi pesaing sejenis, lalu dikali akses transit dan harga tempat.
- 4
Diurutkan, dengan alasannya
Tiap petak dapat keterangan: kurang dilayani, bersaing ketat, atau sudah penuh.
Setiap kawasan bisa dilihat sebagai maket.
Bangunan, jalan, dan haltenya diambil dari peta dasar yang sama, dipotong seradius jalan kaki, dan bisa diputar. Tiap bangunan berdiri setinggi yang tercatat di petanya.
Setiabudi Astra
Tanya pakai bahasa sehari-hari, petanya yang berubah.
Sebutkan mau buka usaha apa, dan seluruh kota berganti warna untuk usaha itu. Tidak ada rumus yang harus diisi dan tidak ada istilah yang harus dihafal.
Kenalan dengan Tapak, pemandu Anda.
Tapak yang membaca pertanyaannya, menyusun pencariannya, lalu menjawab lengkap dengan alasannya. Kalimatnya ditulis modelnya, angkanya tidak: tiap angka dihitung mesin skornya dari data, dan angka yang tidak ada di hitungan itu dibuang mesin sebelum sampai ke layar. Kalau satu kawasan belum disurvei, Tapak bilang belum ada datanya, bukan mengarang.
Sudah malam. Saya Tapak. Saya sudah keliling 562 petak di sekitar MRT, KRL, LRT, dan koridor TransJakarta. Lagi kepikiran buka usaha apa?
Sebelum menjawab, peta menunjukkan apa yang dia tangkap. Kalau salah tangkap, Anda langsung tahu.
Pertanyaannya contoh. Angkanya tidak: tiap warna dan nilai di sini dihitung mesin yang sama dengan aplikasinya.
Satu peta, macam-macam keputusan.
- Pemodal ritel & kuliner
- UMKM bermodal pas-pasan
- Calon wirausaha rumahan
- Tim pembukaan cabang
- Pemilik & agen properti
- Pencari lokasi cabang
- Kedai Kopi
- Kedai Minuman
- Toko Roti & Kue
- Warung & Rumah Makan
- Gerai Cepat Saji
- Mie & Bakso
- Rumah Makan Seafood
- Restoran Masakan Asing
- Minimarket
- Toko Kelontong
- Laundry
- Bengkel Kendaraan
- Apotek